Kebijakan Menteri Susi Beri Dampak Positif Bagi Nelayan Kecil

Jaga.Laut – Totalitas Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pusjiastuti dalam membabat pelaku illegal fishing memberikan dampak positif bagi nelayan kecil. Dagho, Pulau Sangihe, Sulawesi Utara yang terkenal dengan penghasil tuna raksasa jenis sirip kuning (yellowfin). Dengan bermodal kapal berukuran 6 GT, nelayan kecil Dangho saat ini mampu mengkap tuna raksasa tersebut sebanyal 3 – 5 ekor dengan berat antara 30 kg hingga 60 kg per ekor dalam sekali melaut.

Sebelum ketatnya Menteri Susi dalam memberatas pencurian ikan ini, nelayan kecil Dangho kesulitan menangkap ikan di perairannya sendiri. Tak hanya itu, hasil tangkapan mereka cenderung tidak dilirik, “Sangat membantu nelayan-nelayan kecil di Dagho, sebab dulu nelayan-nelayan kecil di sini hasil tangkapannya susah di pasaran dan tidak dilirik karena banyaknya kapal Filipina berukuran 20 Gross Ton (GT) yang masuk dan menguasai pasar lokal dan pabrik pengalengan di sini,” ujar Kepala Unit Perum Perindo wilayah Sulawesi Utara,   Selasa (8/8).

Dominasi kapal Filipina di wilayah Dagho lambat laun menghilang. Akibatnya aktivitas penggelapan ikan dari Dangho ke Filipina sudah mulai berkurang dan cenderung tidak terjadi lagi. Peluang nelayan-nelayan kecil Dangho untuk menangkap ikan tuna semakin besar sebab menghilangnya pesaing mereka. Dalam sehari total ikan tuna yellowfin tangkapan nelayan Dagho yang masuk ke Unit Pengelolaan Ikan (UPI) Pantai Dagho saat ini mampu mencapai 10 ton, jika kondisi laut sedang bagus. Pasalnya pada bulan Agustus hingga Oktober adalah musim migrasi ikan tuna di perairan Dagho untuk kawin dan bertelur.

Dengan berlakunya kebijakan Menteri Susi diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan kecil tidak hanya di Dangho tetapi juga nelayan-nelayan di seluruh Indonesia. Untuk itu sampai saat ini, Menteri Susi terus gencar memberatas peraktik illegal fishing ini. Baru-baru ini, pihaknya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan vendor asing asal Amerika Serikat Skytruth, menjalankan aplikasi pemantau pergerakan kapal di wilayah perairan Indonesia, bernama Global Fishing Watch.

Adapun, kebijakan Mentersi Susi dalam meningkatkan pendapat nelayan kecil dan pengusaha di bidang perikanan yaitu dengan mendirikan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Seperti di Saumlaki, Ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat ini ternyata memiliki potensi perikanan tangkap mencapai 36.500 ton/tahun. Namun sayangnya, baru 24 persen atau 8.760 ton potensi perikanan tangkap yang dimanfaatkan nelayan Saumlaki. Jumlah nelayan di Saumlaki sendiri mencapai 9.400 orang. Sedangkan kapal nelayan yang ada di sana mencapai 5.400 unit yang terdiri dari kapal jukung dan kapal motor.

Untuk itu, KKP bergerak cepat untuk mendongkrak perikanan tangkap di Saumlaki hingga 80 persen. Berbagai cara dilalui baik itu melalui pendirian SKPT. Menteri Susi bahkan menugaskan Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan Ditjen Perikanan Tangkap sebagai pelaksana di SKPT Saumlaki. Tak hanya itu Menteri Susi juga memberikan alat tangkap dan perahu, meningkatkan keterampilan SDM-nya, dan mengembangkan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Ukurlaran. Sebagai salah satu fokus utama dari KKP.

 

Sumber : Kumparan.com