Dengan Inovasi Teknologi “LEDikan” Dapat Meningkatkan Hasil Tangkapan Nelayan Hingga Lima Kali

JagaLaut – Kemudahan untuk memperoleh hasil tangkapan merupakan satu hal yang diimpikan oleh para nelayan. Inovasi dan teknologi untuk memudahkan nelayan dalam menangkap ikan seyogyanya terus dikembangkan. Hal itulah yang terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan.

Adalah LEDikan, sebuah alat untuk memikat ikan dengan menggunakan lampu LED (Light-Emitting Diode) dengan desain dan spesifikasi khusus yang digunakan untuk membantu nelayan memperoleh ikan. Alat ini digagas oleh Agus Cahyadi, Peneliti Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Oleh karena penemuannya inilah Agus diganjar penghargaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti), yang diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada acara peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) hari ini, Kamis (10/8) di Makasar, Sulawesi Selatan. Ia pun berharap dengan teknologi LEDikan yang ia ciptakan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui peningkatan produktivitas tangkapannya.

”Saya ciptakan alat ini untuk bisa membantu nelayan memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak, penemuan alat ini sudah dari tahun 2013 dan sudah mulai diproduksi masal sejak 2016 lalu,” ungkap Agus saat ditemui di Jakarta pada Rabu (9/8).

Meskipun sederhana, inovasi penemuan Agus sangat aplikatif dan bermanfaat bagi nelayan. Faktanya, nelayan yang menggunakan lampu LEDikan mampu meningkatkan hasil tangkapannya hingga 5 kali lipat. “Biasanya LEDikan di pasang di bawah air di bagan atau rumpon milik nelayan, gunanya untuk menarik ikan datang,” tambahnya.

Adapun prinsip kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan spektrum cahaya yang dihasilkan dari LED. Cahaya dari lampu LED tersebut dapat menarik plankton-plankton yang akan mengundang ikan kecil untuk datang. “Kemudian ikan yang berukuran besar datang untuk memakan kumpulan ikan kecil tersebut. Sehingga terjadilah rantai makanan dan schooling (kumpulan) ikan di sekitar bagan maupun rumpon yang kemudian masuk ke dalam jaring nelayan,” paparnya.

Agus menambahkan, dengan bantuan LEDikan ini nelayan bisa memperoleh hasil tangkapan 5 kali lebih banyak jika dibanding dengan tangkapan nelayan biasanya tanpa menggunakan LEDikan. “Biasanya nelayan memperoleh 100 kg untuk bagan ukuran 8,5 x 8,5 meter untuk sekali angkat, dengan penggunaan LEDikan jumlahnya bisa menjadi 500 kg, bahkan kalau sedang melimpah ikannya bisa sampai 1 ton, hasil tangkapannya,” terang Agus.

Agus menjelaskan LEDikan yang ia ciptakan memiliki keuntungan dibanding dengan lampu-lampu yang umumnya digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Ada beberapa keunggulan yakni alat ini menggunakan bahan yang renewable sehingga dapat digunakan secara hemat jika dibandingkan dengan lampu biasa. Selain itu, alat ini juga lebih terang dengan spektrum cahaya RGB yang dirancang khusus dan disesuaikan dengan target ikan yang akan ditangkap. Panas yang keluar dari LEDikan ini tidak membuat ikan menjauh, justru sebaliknya dapat menarik ikan datang. Selain memudahkan operasi penangkapan ikan di laut, alat ini juga aman digunakan bagi nelayan karena tidak mudah mengeluarkan percikan api atau konslet.

”LEDikan juga awet dibandingkan lampu biasa, umur pakainya bisa sampai 5 tahun, kalau lampu biasa yang dipakai paling dalam hitungan minggu sudah putus karena kena angin dan terlalu panas, penggunaannya juga tidak bisa di pakai untuk di bawah air, sehingga menyulitkan nelayan, kalau LEDikan bisa dipakai di bawah air dan aman untuk nelayan,” terangnya.

Peneliti yang telah menerima 25 paten ini menerangkan, LEDikan sudah memperoleh hak paten dan diproduksi dalam jumlah besar. Alat tersebut juga sudah berhasil diperbanyak dan dibuat massal untuk selanjutnya dijual secara komersil. Saat ini paling tidak sudah ada 300 alat LEDikan yang digunakan oleh 300 nelayan di seluruh berbagai daerah seperti di Wakatobi, Sulawesi Selatan, Karimun Jawa, Pangandaran, dan lainnya.

”Total saya sudah buat 300 alat dan digunakan 300 nelayan, cuma yang dijual secara komersil baru 100 alat, kedepan akan kita produksi lebih banyak lagi sesuai dengan permintaan nelayan yang meningkat,” paparnya.

LEDikan sudah mulai dipasarkan sejak 2016 lalu, dibandrol dengan harga Rp 8,5 juta untuk ukuran 15 x 20 cm dengan daya 145 watt diperuntukkan bagi bagan ukuran 8,5 m x 8,5 m. Awalnya ia menargetkan untuk nelayan tradisional dengan bagan ukuran 8,5 m x 8,5 m, penggunaannya cukup satu per bagan, dan bisa tahan hingga 5 tahun.

Namun seiring berkembangnya kebutuhan nelayan, saat ini ia dan timnya juga menerima pesanan dengan ukuran yang lebih besar untuk nelayan skala besar dengan ukuran bagan 16 x 16 m. “Tapi kami buat LEDikan yang lebih besar ukuran 30 x 40 cm dan daya nya sekitar 400 watt, harganya juga dua kali lipat dari yang kecil,” terang Agus.

Hal ini dilakukan agar semakin banyak nelayan yang dapat menggunakan hasil karya teknologi buatannya, baik nelayan kecil maupun nelayan besar.

Sebelumnya, lelaki yang akrab disapa Acah ini memang telah mengikuti program Inovasi Bisnis Teknologi (IBT) dari Kementerian Ristekdikti pada 2013 lalu. Waktu itu dirinya memperoleh bantuan dana penelitian selama dua tahun dari 2013 – 2015. Selama masa inkubasi tersebut didorong untuk mendesain alat agar mampu diproduksi masal dan aplikatif di masyarakat, serta memiliki nilai ekonomi yang baik.

Agus pun berpesan, agar para peneliti di lingkup pemerintahan pantang menyerah saat melakukan penelitian. “Semoga inovasi yang saya buat ini, dapat menularkan semangat kepada akademisi, peneliti dan khalayak lainnya. KKP saat ini juga terus berupaya menghasilkan inovasi teknologi yang aplikatif bagi nelayan maupun pelaku perikanan lainnya,”
tutupnya.

Sumber : kkp.go.id