KKP Panen Perdana Lele Bioflok di Ponpes MBS Sleman

Jaga.Laut – Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP Rifky Effendi Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok di Ponpes Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS), Kabupaten Sleman. Turut serta dalam kegiatan tersebut yaitu Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Asisten II Setda DI Yogyakarta Sigit Sapto Raharjo dan Bupati Sleman Sri Purnomo.

“Panen perdana ini merupakan bukti nyata keberhasilan program pengembangan lele bioflok, yang saat ini menjadi program unggulan nasional. Kebehasilan ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi dan pemenuhan suplai pangan berbasis ikan khususnya di kalangan warga santri,” kata Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto saat melakukan panen perdana di Ponpes Modern MBS, Kecamatan Prambanan, Sleman, Jum’at (13/10).

Menurut Rifky, keberhasilan budidaya lele bioflok menambah optimisme bahwa inovasi teknologi ini memang menjadi solusi paling efektif dalam mewujudkan pergerakan ekonomi dan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan lingkungan global saat ini.

“Saya atas nama pemerintah mengapresiasi setinggi-tingginya atas komitmen dan tanggung jawab warga Ponpes dalam menyukseskan program lele bioflok ini, di mana hasilnya bisa kita saksikan hari ini. Dukungan lele bioflok di Ponpes MBS ini merupakan bagian dari 168 total penerima manfaat secara nasional,” ungkap Rifky.

Hasil memuaskan

Sebelumnya Ponpes Modern MBS mendapatkan dukungan pengembangan lele bioflok sebanyak 2 unit usaha melalui Ditjen Perikanan Budidaya. Dari 1 unit yang dipanen kali ini didapatkan hasil produksi lele konsumsi ukuran 10-12 ekor per kg sebanyak 3,6 ton dengan nilai jual diperkirakan sebesar Rp 62,1 juta.

Direktur Jenderal Perikanan Budiadaya Slamet Soebjakto di sela-sela panen perdana menyampaikan bahwa hasil panen tahap awal ini sangat memuaskan. Menurutnya, secara ekonomi dengan hasil panen saat ini dipastikan sangat menguntungkan dan tentunya diharapkan akan memicu kesinambungan usaha.

“Hitungan kasar dengan hasil panen 7,2 ton saja untuk 2 unit, maka keuntungan bersih yang diraup dapat mencapai Rp35 juta per siklus untuk 2 unit budidaya. Ratio pendapatan terhadap biaya produksi minimal 1,5 artinya sudah dipastikan usaha ini sangat layak,” jelas Slamet.

Untuk itu, Slamet berharap ada kesinambungan usaha dengan melakukan re-investasi sehingga kapasitas usaha akan semakin besar. Ia juga menekankan agar koperasi yang ada bisa diperkuat, karena kelembagaan ini menjadi sangat penting dalam mata rantai usaha.

Direktur Muhammadyiah Boarding School, Fajar Sodiq mengatakan, dukungan lele bioflok ini sangat membantu warga ponpes khususnya dalam meningkatkan konsumsi ikan untuk perbaikan gizi para siswa, di samping untuk sarana belajar berusaha.

Sementara itu Asisten II Setda DI Yogyakarta, Sigit Sapto Raharjo menyampaikan apresiasi atas dukungan program yang digulirkan KKP. Menurutnya, lele bioflok ini sangat cocok sebagai alternatif usaha baru di kalangan masyarakat Yogyakarta, tidak terkecuali masyarakat kota, karena cenderung membutuhkan sumberdaya air dan lahan yang terbatas.

“Sangat mengapresiasi keberhasilan lele bioflok ini, dan berharap keberhasilan ini akan juga memicu keberhasilan serupa di Ponpes lain. Saya rasa, usaha lele bioflok ini dapat menjadi sarana belajar untuk mencetak wirausaha baru di kalangan warga Ponpes, di sisi lain tentunya dapat menyediakan sumber pangan untuk perbaikan gizi mereka,” ungkapnya.

Tahun 2017, pemerintah mendorong pengembangan bioflok nasional sebanyak 203 unit usaha di 88 Kabupaten/Kota yang tersebar di 27 Provinsi. Target sasaran adalah sebanyak 168 pondok pesantren, yayasan, lembaga pendidikan, koperasi, dan lembaga keagamaan dengan nilai anggaran sebesar Rp40,6 miliar.

Melalui program lele bioflok ini, secara nasional pemerintah menargetkan antara lain, penyediaan produksi ikan sebesar 3.897 ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp62,3 miliar per tahun. Peningkatan pendapatan Rp7.000  per kg, penyerapan tenaga kerja hingga 2.030 orang, pemberdayaan dan media pembelajaran bagi sekitar 157.000 santri dan meningkatkan tingkat konsumsi ikan bagi warga pondok pesantren dari semula 9 kg per kapita/tahun menjadi sedikitnya 15 kg/kapita/tahun.

Sumber: kkp.go.id