Pemerintah Distribusikan Bantuan Alat Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan di Tegal, Provinsi Jawa Tengah

JagaLAut – Tegal. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  kembali mendistribusikan sejumlah Alat Penangkapan Ikan (API) ramah lingkungan untuk nelayan di Kota Tegal sebanyak 141 paket dan untuk nelayan di Kabupaten Tegal sebanyak 129 paket.

Bantuan diserahkan di Gedung Mina Graha KUD Karya Mina Tegal, Senin (13/11) oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja besama Plt. Walikota Tegal, Nursoleh; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, Lalu M. Syafriadi; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tegal; dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tegal.

“Berkat andil kita semua dalam menjaga kelestarian sumber daya ikan, ikan sekarang banyak dan besar-besar. Kalau alat tangkapnya ramah lingkungan, ikan yang ditangkap lebih selektif. Kekayaan laut bukan hanya milik kita tetapi juga milik anak-cucu kita. Kita harus menjaganya dengan baik. Yang kecil biarkan berkembang jangan ikut ditangkap. Untuk menjaga laut, kalau bukan kita siapa lagi?” papar Sjarief.

Akibat kebijakan KKP mewajibkan nelayan untuk menggunakan Alat Penangkapan Ikan (API) ramah lingkungan dan menindak keras praktik IUU (Illegal, Unreported, and Unregulated) fishing stok ikan nasional meningkat. Stok ikan nasional pada 2013 sebanyak 7,31 juta ton, pada 2015 sebanyak 9,93 juta ton, dan terus meningkat pada 2016 mencapai 12,5 juta ton.

Bantuan API ramah lingkungan merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan dengan mengembangkan usaha perikanan tangkap secara berkelanjutan. Artinya, dengan dukungan seluruh pihak dalam memberantas aktivitas penangkapan ikan ilegal membuat stok ikan semakin melimpah yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan lokal.

“Bantuan API ramah lingkungan ini saya harapkan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memanfaatkan sumber daya ikan yang makin melimpah itu secara lestari. Mari (red. API ramah lingkungan) kita manfaatkan dengan tepat, “ ungkap Sjarief.

DJPT juga bekerja sama dengan Bank BRI membuka Gerai Permodalan Nelayan (Gemonel) untuk meningkatkan skala usaha termasuk memfasilitasi pengembangan alat penangkapan ikan ramah lingkungan. Pemberian Gemonel secara simbolis diberikan kepada KUR Mikro dengan perwakilan sebanyak tiga orang dengan total sebesar Rp 25 juta per orang, KUR Ritel atas nama Ratmo sebanyak Rp 200 juta, dan KUR Ritel atas nama Nurul sebanyak Rp 500 juta.

Sebagi informasi, Provinsi Jawa Tengah sendiri sampai saat ini fasilitasi permodalan untuk nelayan telah mencapai Rp 138,283 milyar. Khusus untuk cabang Tegal, BRI sudah memfasilitasi permodalan dengan KUR Mikro Nelayan sebesar Rp 6,2 Milyar dengan 573 debitur sedangkan untuk KUR Ritel mencapai Rp 5,5 Milyar dengan 22 debitur.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) mengupayakan berbagai pendekatan untuk membantu nelayan Tegal. Selain memberikan Alat Penangkapan Ikan (API) ramah lingkungan juga menyerahkan premi klaim asuransi nelayan (asnel) kepada ahli waris, pemberian kartu asuransi nelayan, penyerahan bantuan Permodalan Nelayan, dan penyerahan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), dan Surat Izin Penangkap Ikan (SIPI).

Klaim asuransi nelayan di Tegal diberikan di Gedung Mina Graha KUD Karya Mina Tegal, Senin (13/11) kepada tiga orang ahli waris akibat kematian alami masing-masing sebesar Rp160 juta, dan satu orang sebesar Rp810 ribu untuk dana pengobatan.

“Yang belum ikut asuransi nelayan, segera daftar di Dinas Perikanan. Asuransi ini penting karena memiliki manfaat santunan kecelakaan akibat melakukan aktivitas penangkapan ikan hingga Rp 200 juta apabila meninggal dunia,” jelas Sjarief.

Adapun, manfaat asuransi nelayan seperti santunan hingga Rp100 juta apabila mengalami cacat tetap dan Rp 20 juta untuk biaya pengobatan. Sedangkan jaminan santunan kecelakaan akibat selain aktivitas penangkapan ikan sebesar Rp160 juta apabila meninggal dunia, Rp100 juta apabila cacat tetap dan Rp 20 juta untuk biaya pengobatan.

Pada kegiatan ini, Dirjen Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja, diikuti oleh tim dari Direktorat Perizinan dan Kenelayanan dan 100 orang nelayan setempat serta 100 orang yang berasal dari instansi lanal, polsek, dan polres setempat juga melakukan aksi bersih kampung nelayan.

Sjarief menjelaskan kegiatan bersih kampung merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan peran serta masyarakat nelayan dalam penataan kampung nelayan secara mandiri, menumbuhkan kesadaran masyarakat nelayan terhadap pentingnya hidup sehat dan meningkatkan peran kelembagaan nelayan dalam mengelola lingkungan kampung nelayan.

“Sasaran kami dengan adanya penataan kampung nelayan, yang salah satunya adalah bersih-bersih kampung nelayan ini yakni terciptanya kawasan/lingkungan kampung nelayan yang bersih, sehat dan nyaman serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat nelayan” jelas Sjarief.

Sebagai informasi , KKP juga mengadakan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara KKP dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI),serta menggelar pagelaran lukis, tari dan wayang kulit. Pagelaran wayang kulit ini berjudul “Pandawa Layar”. Pagelaran ini dibuka secara simbolis dengan penyerahan wayang kulit dari Dalang Ki Enthus Susmono kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi menyampaikan bahwa acara wayang kulit ini merupakan hiburan nelayan yang menjadi bukti bahwa KKP menyentuh pemberdayaan dari berbagai sisi.

Sumber: kkp.go.id