KKP Jamin Potensi Perikanan Kabupaten Natuna Akan Terus Melonjak

JagaLaut. Natuna – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja ke Selat Lampa di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Dalam kunjungan kerjanya pada Senin (7/8), Menteri Susi memberikan sejumlah bantuan berupa asuransi, kapal penampung ikan hingga alat tangkap kepada nelayan-nelayan lokal Natuna dan mengunjungi Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT).

SKPT seluas 3 hektare dilengkapi berbagai fasilitas seperti tempat pemasaran atau pelelangan ikan, dermaga, kios perlengkapan ikan, dan cold storage. Ini digunakan dengan harapan dapat menggenjot produksi ikan.

Tempat pelelangan ikan di Natuna.
Tempat pelelangan ikan di Natuna. (Foto: Angga Sukmajaya/kumparan)

Melihat potensi tangkapan ikan di Natuna mencapai 1.143.341 ton dan total kapal nelayan di Natuna yang mencapai 2.000 kapal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mendirikan cold storage tambahan dengan kapasitas 1.000 ton. Di mana sebelumnya SKPT masih mengandalkan cold storage dari Perum Perikanan Indonesia (Perindo) yang berkapasitas 200 ton. Padahal targetnya dalam setahun, Perum Perindo Natuna bisa memproduksi ikan hingga 24.000 ton atau 80 ton setiap harinya.

Selain itu, belum aktifnya dermaga menyebabkan sedikitnya kapal yang berlabuh, hanya sekitar 1.500 kapal. Namun, dia memastikan dermaga akan segera beroperasi total pada akhir bulan ini sehingga semakin banyak nelayan yang menjual ikannya. Tak hanya itu, Syarif Widjaja Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, turut mengupayakan pula SKPT dapat segera beroperasi pada akhir tahun ini sehingga dapat mempermudah para nelayan menjual ikannya dengan harga bersaing.

“Natuna merupakan satu dari 12 kawasan sentra perikanan terpadu yang dibangun pemerintah. Kami menargetkan bisa segera beroperasi pada tahun ini,” kata Syarif di Selat Lampa, Natuna.

Manajer Perum Perindo Unit Natuna, Yogi Adri menyampaikan bahwa sebagian besar hasil tangkapan ikan yang dijual ke Perindo rata-rata berjenis ikan kakap dan tongkol. Menurutnya, bisnis perikanan di Natuna bisa sangat menggiurkan. Untuk ikan Kakap Merah, Perindo membeli dari nelayan seharga Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Ikan tersebut lalu dijual oleh Perindo dengan harga Rp 60 ribu per kilogram.

“Kakap ini juga diminati Singapura. Tapi kami masih belum ekspor hingga saat ini. Makanya kalau dermaga sudah selesai, kami yakin produksi ikan akan semakin besar di sini dan potensi ekspor bukan hal yang mustahil, ” pungkas Yogi.

Untuk mendukung peningkatan produksi ikan ini, KKP bahkan memberikan bantuan kapal sebanyak 60 unit. Dari total tersebut, 10 unit di antaranya berkapasitas 20 GT dan memperketat pengawasan laut di sekitar Natuna. Sebab nelayan mengaku merasa menangkap ikan karena adanya praktik illegal fishing ini. Bahkan sepanjang 2017, sudah ada 29 kapal asing yang ditangkap petugas KKP di perairan Natuna. Sebagian besar berasal dari Vietnam dengan kapasitas kapal beragam dari 100 GT hingga yang terbesar 230 GT.

“Jumlah ini cukup besar, karena pada tahun 2016 sampai akhir tahun kapal nelayan asing yang ditangkap ada 36. Sekarang baru setengah tahun sudah 29,” katanya.

Pada awal Agustus, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP menangkap 3 kapal nelayan asal Vietnam yang diduga melakukan illegal fishing di Perairan Natuna Utara, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Adapun ABK Kapal yang ditahan saat ini jumlahnya sebanyak 63 orang ABK di Natuna dan ada 110 ABK yang ditahan di Batam. Sementara yang sudah dipulangkan mencapai 695 orang.

Untuk proses penenggelaman kapal akan dilaksanakan setelah proses hukum, apabila dinyatakan inkracht (berkekuatan hukum tetap), maka eksekusi penenggelaman akan dilakukan sesuai perintah dari Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

Kepala Pangkalan PSDKP Batam, Slamet mengatakan pihaknya akan terus mengejar kapal-kapal nelayan asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Dia memastikan patroli Kapal KKP akan terus memantau pergerakan kapal di Perairan Natuna.”Perairan Natuna cukup strategis dan menjadi tujuan pencurian ikan. Kami harus memastikan kedaulatan dan terus berupaya memberantas illegal fishing yang merugikan Indonesia,” ujarnya.

 

Sumber : kkp.go.id

Tulis Komentar