Teripang : Antara Potensi dan Resiko – Sebuah Catatan Kondisi Nelayan ‘Penyelam’ di Kepulauan Batu

(Ditulis oleh Yuniass Dao, Koordinator #JagaLaut Kabupaten Nias Selatan)

Kepulauan Batu merupakan sebutan untuk 101 pulau di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara yang terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan, yakni Pulau-Pulau Batu, Pulau-Pulau Batu Utara, Pulau-Pulau Batu Barat, Pulau-Pulau Batu Timur, Tanah Masa, Hibala dan Simuk (Pulau terdepan). Selain keindahan dan pesona alam yang merupakan potensi wisata bahari, salah satu keunggulan potensi kepulauan ini adalah di sektor kelautan dan perikanan. Sebagai daerah yang terdiri dari gugusan pulau, tentunya memiliki kandungan sumberdaya perikanan yang potensial dengan terumbu karang yang menyebar di setiap perairan pulau, namun akhir-akhir ini di beberapa wilayah mengalami kerusakan karena maraknya penggunaan bahan peledak (destruktif fishing) untuk menangkap ikan.

Salah satu komoditas hasil perikanan yang di dapatkan oleh nelayan adalah Teripang. Komoditas perikanan jenis ini merupakan potensi yang berlimpah di Kepulauan Batu. Teripang adalah sebutan untuk hewan mentimun laut (Holothuroidea) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Hidupnya di dasar substrat pasir, lumpur pasiran, atau dalam lingkungan terumbu, dengan gerakan yang lambat. Terdapat berbagai jenis teripang di sekitaran terumbu karang dan perairan pantai di gugusan pulau.

Nelayan ‘penyelam’ (sebutan untuk nelayan yang menangkap teripang) melakukan penangkapan teripang dengan cara menyelam pada perairan 1 – 20 meter. Dengan bantuan alat selam ‘ala kadarnya’ berupa Kompresor konvensional yang digunakan nelayan penyelam sebagai alat penghasil udara tekan untuk ‘media pernafasan’ dalam air. Nelayan mengumpulkan teripang dari dasar perairan dengan menggunakan seser. Penggunaan kompresor tentunya sangat beresiko, tidak sedikit nelayan mengalami kerusakan pendengaran, lumpuh karena tekanan di kedalaman laut dan berbagai gangguan fisik lainnya. Namun, karena tidak adanya peralatan yang lebih safety yang dimiliki, nelayan terpaksa menggunakan peralatan ‘ala kadar-nya’ tersebut untuk melakukan penyelaman meskipun beresiko. Di lain sisi harga Teripang yang cukup tinggi, menjadi antusias tersendiri bagi nelayan untuk terus berburu teripang di perairan dalam.

Hasil tangkapan teripang kemudian diolah dengan penggaraman, perebusan dan pengeringan. Kemudian dijual kepada penampung lokal yang juga menjadi pemodal bagi nelayan. Beberapa penampung/pembeli teripang membuat ‘kontrak’ kepada nelayan, dimana penampung/pembeli menyuplai kebutuhan nelayan seperti BBM, ransum, pinjaman uang, armada kapal atau perhu dan lainnya, dimana nantinya teripang yang didapatkan dijual ‘hanya’ kepada penampung yang memodali tersebut. Namun, hubungan ‘kontrak’ tersebut hanya sebatas ‘jual beli’. Tidak ada jaminan lain yang menjadi kewajiban atau tanggung jawab ketika nelayan bersangkutan mengalami resiko seperti yang dituliskan sebelumnya.

Informasi dari nelayan, Teripang yang telah diolah dijual dengan harga 35.000 – 1.250.000. Harga berubah-ubah yang oleh pengakuan penampung/pembeli disebabkan oleh kondisi pasar. Oleh penampung, Teripang yang terkumpul tersebut dipasarkan kembali kepada penampung di Sibolga (Sumatera Utara) dan Padang (Sumatera Barat).

19619200_10207635972297934_265155870_o
Teripang sedang dijemur

Selain nilai ekonomis dari komoditas Teripang, Nelayan ‘penyelam’ tradisional harus menjadi perhatian prioritas oleh pemangku kebijakan dalam hal resiko yang dihadapinya. Tuntutan kebutuhan hidup dengan bermata pencaharian penyelam tradisional merupakan pilihan masyarakat di wilayah pesisir Kepulauan Batu. Bahkan sampai saat ini, Program Asuransi Nelayan yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI belum menyentuh nelayan di Kepulauan Batu. Harapannya ini dapat menjadi perhatian, mengingat besarnya resiko yang dihadapi oleh nelayan, baik itu nelayan Teripang, maupun nelayan lainnya.

Dalam kebijakannya, Pemerintah tidak hanya sekedar memberikan larangan atau penyuluhan standar keamanan atas resiko yang akan dihadapi oleh nelayan ketika melakukan penyelaman Teripang dengan peralatan yang tidak Safety. Penyadaran ini tentunya juga harus dibarengi dengan solusi teknis maupun alternatif. Ada dua sisi yang menjadi fokus, antara potensi komoditas ekonomis yang tentunya takkan ‘dibiarkan’ begitu saja dan resiko yang dihadapi ketika potensi tersebut dimanfaatkan terutama oleh nelayan tradisional. Selain itu, pemasaran hasil tangkapan Teripang dengan mata rantai pasar yang panjang tentunya mengurangi harga beli pada nelayan, sistem suplai kebutuhan dan modal, membuat nelayan menjadi ‘rawan’ karena terikat sistem lokal tersebut. Ini juga harus diperhatikan dengan membangun sebuah sistem pasar dan memberdayakan nelayan untuk berkoperasi. Koperasi nelayan dalam tentu tidak hanya sekedar ‘menyuruh’ nelayan berkoperasi. Baiknya ada sebuah pengakomodiran dan fasilitasi bagi nelayan berupa dukungan kemudahan membentuk koperasi, badan hukum-nya, pelatihan dan pembinaan serta pengawasan. Hal ini dapat tercapai dengan kerjasama semua stakeholder terkait.

19688193_10207636054819997_1251116867_o
Teripang sedang dijemur

Tulis Komentar